Thursday, December 1, 2016

Jangan Kaitkan Saya dengan Demo 212

tirto.id - Pelbagai pemberitaan aksi demonstrasi 212 membuat Wiro Sableng dengan sendirinya mencuat. Karakter pendekar rekaan Bastian Tito itu memang terkenal dengan angka 212. Julukannya: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Bastian Tito sudah wafat. Yang lekas muncul di kepala tinggal sosok Ken Ken, pemeran Wiro Sableng versi sinetron. Herning Sukendro alias Ken-ken kini sudah tidak lagi beredar di layar kaca. Seakan menapaktilasi cerita Wiro Sableng yang memang digembleng di Gunung Gede, Ken Ken kini menetap di kaki Gunung Gede.

Ia memutuskan tinggal di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur. Untuk bisa tiba di rumah Ken Ken, harus melewati jalanan berbatu dan menanjak. Tanah merah yang licin dan becek masih tersisa akibat bekas hujan di pagi hari. Mobil kepayahan untuk naik hingga ke atas. Alhasil mobil pun terpaksa di parkir di bawah, sehingga perlu berjalan 100 meter lebih untuk tiba di sebuah rumah panggung yang di sana sini terlihat lapuk kayunya.

Dari dalam rumah, seorang pria besar memanggil untuk masuk. Meski pintu depan terbuka, dia meminta kami  memutar lewat pintu belakang. Teras depan rumah itu memang terlihat keropos. Bisa-bisa kalau tidak hati-hati kami terperosok ke kolong.  

Setibanya di dalam, si empunya rumah menjabat tangan sembari mengucapkan salam: “Selamat datang di padepokan saya.”

Sebenarnya ini bukanlah padepokan silat atau padepokan supranatural. Bangunan lapuk ini hanya vila tidak terurus yang mempunyai lahan tidur tak berguna seluas hampir 6 hektar. Sejak 8 bulan lalu, Ken Ken mengambil alih dan memanfaatkannya untuk ditanami bermacam sayuran. Ken Ken kembali ke Gunung Gede bukan sebagai pendekar, namun sebagai petani.

Berikut wawancara Tirto.id dengan Herning Sukendro alias Ken Ken.

Mau dipanggil apa nih? Abang? Akang? Mas? Kakanda atau kisanak biar kayak di film-film silat?

Halah pakai kakanda-kakanda segala. Ah biasa aja. Siapa, sih, aku sekarang cuma petani, bukan siapa-siapa.

Kenapa setelah pensiun larinya ke pertanian? Gak kerja atau bisnis di bidang lain?

Dulunya mau lari ke perikanan dan tinggal di sisi laut. Tapi setelah ku pikir-pikir, karena dari dulu aku tinggal dan beli rumah di pegunungan, aku jadi terbiasa di alam gitu, pengen di alam aja. Toh waktu syuting Wiro Sableng pun banyak di hutan. Gak tertarik untuk aktivitas banyak di kota, lebih enak di desa. Karena di desa itulah aku nyoba menggeluti pertanian. Gak muluk-muluk coba nanam jagung dulu, baru setelah itu merambah ke yang lain.

Jokowi akhir-akhir ini sering undang orang ke Istana, gak diundang, nih, ke Istana sama Jokowi?

Ya enggak, lah. Jangan kaitin aku sama demo 212 dong, hahahaha. Gak ada kaitannya itu. Memang ramai sekarang kaitin demo 212 sama aku. Tapi, ya, mungkin kebetulan aja tanggal 2 bulan 12. Gak ada hubungannya sama Wiro Sableng. Mana mungkin aku diundang ke Istana. Kebetulan aja mereka punya jadwal tanggal 2 bulan 12 mau demo Ahok.

Soal aksi 212 besok tanggapan akang?

Masalah Ahok, ya sudah tersangka. Proses secara hukum, kalau dia bersalah, ya hukum. Umat Islam yang merasa dihina-hina, ya saya juga tersinggung. Kita sekarang lihat prosesnya saja, Ahok sampai di mana. Kita, kan, negara hukum, tangkap Ahok misalkan dia salah, kalau dia benar yang dilepaskan gitu. Sebagai umat Islam kita mesti tahan, legowo dan sabar. Toh, nabi juga dulu dikejar-kejar, kok, sampai ke Gua Hira dan dianiaya.

Di dunia politik nasional yang lagi panas sekarang, kira-kira ada gak politikus yang sifatnya agak-agak kayak Wiro Sableng atau Sinto Gendeng?

Kalau dikaitakan sama politisi, siapa, ya? Gak ada, ah, sekarang. Waras semua. Alhamdulillah negara Indonesia pada asyik. Kalau perbedaan pendapat itu, kan, wajar-wajar saja.

Suka politik? Gak tertarik masuk politik? Oh ya politikus favoritnya siapa nih?

Aku gak pernah di politik. Kalau perhatiin, ya, lewat TV aja. Aku gak lari ke politik. Studi saya gak ke sana. Saya orangnya netral aja.  Kesukaanku itu sebenarnya Anas Urbaningrum, tapi itu dulu sebelum kena KPK.

Kalau sekarang sih cenderung Jokowi. Secara politik dia merakyat.  Pak Jokowi kalem, dia terlihat asyik juga, sih. Tapi secara pemerintahan aku suka Prabowo karena dia meledak-ledak. Kalau ngomong waaa.... waaa…. (ekspresi orang beragitasi laiknya Sukarno) itu idamanku tuh. Prabowo aku suka gayanya. Jokowi dan Prabowo sama hebatnya, kok.

Sekarang bicara soal peran Wiro Sableng. Apa sih bedanya Wiro Sableng sama orang gila beneran?

Sebetulnya beda-beda tipis, sih. Karena hal yang gak mungkin dilakuin orang normal malah dilakuin Si Wiro. Jadi bingung saya juga kalau mau jujur. Kentut, merayap-rayap, dan banyak kegilaan lain. Peran ini memang luar biasa banget.

Untuk total jadi Wiro Sableng saya gak pernah aneh-aneh, dalam berperilaku sehari-hari biasa aja. Gak pernah cekikan juga. Saat berakting imajinasi saya yang ambil kendali.

Mungkin tidak di dunia nyata, ada orang sableng terus jadi pahlawan?

Mungkin. Karena gini, satu hal utama di Wiro Sableng adalah sifat kejujurannya. Apa yang dalam hatinya, selalu diucapin di mulutnya. Dia gak pernah berbohong, setiap adegan apapun. Kejujuran itulah kunci. Selemah apapun orang, selama dia jujur, dia akan selalu bermanfaat dan jadi pahlawan. Ada kok aku yakin di era sekarang pun. Banyak yang slengean dan gendeng namun karena dia jujur bisa manfaat untuk orang banyak.

Wiro Sableng dikenal punya puluhan jurus. Pusing hafalin gerakannya? Atau sebenarnya gerakannya itu-itu aja, cuma penyebutannya beda?

Gak, kok. Tiap jurus memang selalu beda. Tapi saya akui memang gak mudah hafalkan jurus. Semua jurus itu dibuat oleh Edi Sodikin. Dia menurut saya bagus untuk bantu Wiro Sableng.

Gerakan silatnya kenapa kok cenderung lamban?

Jaman itu  memang banyak mengadopsi teknik dari kungfu, namun gerakannya memang sengaja diperlambat.  Tren model grip fighting di era 95-an memang begitu. Sebetulnya soal speed bisa ditambah, kok. Namun memang sengaja gerakannya diperlamban agar mudah diikutin dan ditiru anak-anak.

Wajar, soalnya waktu itu target audience Wiro Sableng memang anak kecil bukan orang dewasa. Adegan perkelahian Wiro pun masih bisa ditolerir, gak ada kekerasan di sana. Termasuk adegan cinta, jika pun ada cuma dirasa aja bukan adegan cinta langsung.  Kalau kita baca bukunya langsung, masih banyak adegan-adegan percintaan. Kalau di film memang sengaja di-pres agar jangan ada.

Ini mungkin jadi alasan Wiro Sableng di serial TV kenapa selalu keliatan Jomblo? Padahal bukannya Wiro punya banyak penggemar macam Puti Angsa Putih, Luhjelita, Luhcinta, Wulan Srindi, Nyi Roro Manggut, Ning Intan, Purnama, Anggini, Puti Andini, dll?

Ya, skripnya gitu mau gimana lagi? Tapi memang bener juga, sih, si Wiro ini dikelilingi perempuan-perempuan cantik tapi dia memang terlalu cuek. Gak aneh, sih, Si Wiro ini didikan Sinto Gendeng. Dia tidur di hutan. Dia juga pemuda sableng. Dia bakal turun gunung saat ada kekacauan saja, bukan untuk cari jodoh.

Kalau soal jodoh, sebagai pemeran Wiro Sableng, lebih pilih Bidadari Angin Timur atau Dewi Bunga Mayat?

Hmmmm... bingung saya. Sebetulnya sama-sama. Berat itu. Berat di perannya. Konfliknya itu. Aduh gila aku mainnya sebetulnya. Emang edan itu. Hal yang paling aku takutin, ya, adegan cinta seperti itu. Hmmm... bidadari angin timur, konflik cintanya luar biasa dan lebih dominan.  Tapi kalau ke Bunga juga gak bisa dianggap enteng, itu konflik romantisnya edan juga. Konflik itu memang sengaja dibuat Bastian Tito, luar biasa banget, saya salut ke beliau.

Kalau lihat di TV, kan, kayak sakti banget. Bisa jalan di air sama terbang. Ada yang percaya Akang bisa gitu?

Kalau kanuragan mereka percaya. Karena mereka liat kanuragan saya saat bertarung dan memperagakan silat di TV. Saya memang memperdalam ilmu itu. Tapi kalau yang terbang, jalan di air yang enggak mungkin lah. Itu, kan, cuma film aja.

Sebagai fans Wiro Sableng saya kadang kesal. Kalau bertarung kenapa Wiro Sableng itu cenderung bertahan dan counter attack. Pengen kayak Jackie Chan atau Steven Seagal? Atau memang tipikal jagoan harus begitu?

Betul banget. Wiro Sableng itu bukan tipikal penyerang. Dia penunggu. Dia lebih banyak lihat serangan lawan, baru dia ambil kesimpulan, anggap ini pertarungan serius atau tidak. Ini khasnya Wiro.

Kalau ilmu lawannya di bawah dia. Selalu timbul lelucon ke musuhnya. Ya, meledek gitu, lah. Dia serang musuhnya dengan omongan dan ledekan, sehingga makin mangkel musuhnya sampai mengeluarkan kesaktiannya yang luar biasa tak terduga. Kadang kalau kejebak dalam situasi ini, dia juga bingung sendiri.

Buat saya, Wiro Sableng itu pahlawan yang selalu jajal musuhnya sampai batas maksimum. Jagoan tuh mestinya gitu. Tapi jangan meledek. Wiro Sableng itu aneh. Ledekan itu datang sendiri. Saya kadang maki-maki lawan main saya itu secara lepas dan gak ada dalam skenario

Kenapa sih harus pakai kampak? Kalau diposisikan sebagai Bastian Tito, enaknya Wiro Sableng itu pakai senjata apa?

Itu yang repot. Karena permainan kampak tidak bisa berkembang. Toya bisa berkembang. Pedang apalagi. Patmayoni juga. Kampak yang susah. Susah berkembang itu pengunaannya. Sangat susah soalnya benda kecil. Kalau patmayoni, itu bisa diputer ke mana. Toya bisa main kayak Jet Lee. Tapi kampak melatihnya gimana? benda kecil. Susah. Paling bisa nyabet-nyabet, muter.

Kampak gak bisa perkembangan kayak begini-begini (sambil memperagakan gaya pedang). Maka kalau saya jadi Bastian Tito itu pilihan tepat buat dia bikin pakai Kampak. Karena yang pakai kampak cuma Wiro Sableng. Kalau Wiro Sableng dikasih pedang, wah ancur semuanya. Karena dia sableng. Untung dikasih kampak sama Bastian Tito. Kalau dikasih pedang atau toya, pasti abis aja deh tuh.

Wiro Sableng gak bisa main pedang. Mana pernah dia menggunakan pedang lawan saat pedangnya direbut. Dia percaya diri, mendingan pakai tangan kosong.

Itu senjata di Wiro Sableng kok keliatan banget palsunya? Kadang gabusnya keliatan vulgar. Kalau nonton Wiro Sableng sekarang jadi ilfeel gimana gitu?

Di era itu udah bagus. Menurut saya masih memudahkan. Toh waktunya juga sempit dan adanya begitu. Ya,namanya juga 1995.

Merasa ganteng tidak saat perankan Wiro Sableng?

Enggak. Pas-pasan ajalah.

Saat perankan Wiro sering pakai bedak ya? Tebel banget lho.

Iya, betul sekali. Wajarlah, saya banyak tahi lalat hitam-hitam gitu, pengen keliatan rapi. Lagi pula kulit mukaku gak bagus. Kadang di luar syuting orang liat aku, ya ampun kok begini. Tapi kadang ada pula yang bilang aku manis. Ya dulu bukan sekarang.

Hal yang selalu diingat penggemar serial TV Wiro Sableng itu pas closing-nya yang tampilkan adegan-adegan gagal. Nah di situ kan ada adegan dokar nyungsep, dan Akang masih bisa loncat. Masih ingat kejadian itu?

Itu dokar beneran nyungsep, lho. Itu kejadian yang paling buat saya kecewa saat main di Wiro Sableng. Pas waktu itu, saya gak bisa nyelamatin pemeran Putri Laramurni, namanya Yanti. Gara-gara kecelakaan itu dia geger otak. Cukup parah juga dia.

Jadi waktu itu saya gak sempat narik dia, karena waktunya yang mepet, posisi dokar juga udah miring, makanya saya keburu loncat. Lumayan itu dokar jatuh ke jurang yang tingginya dua meteran, bawahnya bebatuan. Lokasi syuting pas kejadian ini di daerah Wonogiri.

Dulu sekolah di STM, suka berantem?

Gak suka. Gak hobi. Aku banyak kesibukan di luar. Aku hobi mancing, berenang dan jalan-jalan. Gak banyak nongkrong sama berantem.

Masih senang pakai kemeja panjang?

Waktu masih jadi artis. Sekarang udah jadi petani, mah, enggak, biasa aja. Alasan saya pakai kemeja panjang karena memang suka rapi aja. Ditambah kemeja panjang bisa tutupin tangan saya yang gak ada urat. Saya kadang gak pede. Meski olahraga keras juga tetap aja gak ada urat dan ototnya.

Kalau merujuk aktor-aktor yang pernah perankan Wiro Sableng, Akang gak takut apa seperti Toni Hidayat yang mengidap gila beneran?

Iya, betul. Beliau memang kena itu. Tapi kalau aku enggaklah. Aku normal, jangan terlalu dihayatin, deh. Kalau di luar akting, ya udah. Kalau dihayatin ya emang bisa. Sangat bisa dominan. Makanya kalau didalemin, dihayatin, peran Wiro Sableng memang aneh.

Itu tulisan 212 di dada pakai spidol ya?

Haduh. Itu cuma di film aja. Cuma spidol. Tapi ya meski gak ada tanda 212 saya masih bisa jadi pendeka kok, walaupun usia sudah 48 tahun. Ibaratnya saya saat ini memang lagi naik gunung. Tapi memang si Wiro Sableng, kan, asalnya dari gunung. Dan gunungnya pun sama kayak tempat tinggal saya sekarang di Gunung Gede. Saya sebenarnya juga pengen turun gunung, tapi nanti aja deh, maunya bikin tutorial jurus-jurus gitu di >Youtube.

(tirto.id : wam/zen)

"

| Jangan | Kaitkan | Saya | dengan | Demo | tirto | strong> | Pelbagai | pemberitaan | aksi | demonstrasi | membuat | Wiro | Sableng | sendirinya | mencuat | Karakter | pendekar | rekaan | Bastian | Tito | memang | terkenal | angka | Julukannya: | Pendekar | Kapak | Maut | Naga | Geni | sudah | wafat | Yang | lekas | muncul | kepala | tinggal | sosok | pemeran | versi | sinetron | Herning | Sukendro | alias | kini | tidak | lagi | beredar | layar | kaca | Seakan | menapaktilasi | cerita | yang | digembleng | Gunung | Gede | menetap | kaki | p>Ia | memutuskan | Desa | Cikanyere | Kecamatan | Sukaresmi | Cianjur | Untuk | bisa | tiba | rumah | harus | melewati | jalanan | berbatu | menanjak | Tanah | merah | licin | becek | masih | tersisa | akibat | bekas | hujan | pagi | hari | Mobil | kepayahan | untuk | naik | hingga | atas | Alhasil | mobil | terpaksa | parkir | bawah | sehingga | perlu | berjalan | meter | lebih | sebuah | panggung | sana | sini | terlihat | lapuk | kayunya | p>Dari | dalam | seorang | pria | besar | memanggil | masuk | Meski | pintu | depan | terbuka | meminta | kami |  memutar | lewat | belakang | Teras | keropos | Bisa | kalau | hati | terperosok | kolong | p>Setibanya | empunya | menjabat | tangan | sembari | mengucapkan | salam: | “Selamat | datang | padepokan | saya | ”< | p>Sebenarnya | bukanlah | silat | atau | supranatural | Bangunan | hanya | vila | terurus | mempunyai | lahan | tidur | berguna | seluas | hampir | hektar | Sejak | bulan | lalu | mengambil | alih | memanfaatkannya | ditanami | bermacam | sayuran | kembali | bukan | sebagai | namun | petani | p>Berikut | wawancara | Tirto | p>Mau | dipanggil | Abang | Akang | Kakanda | kisanak | biar | kayak | film | strong>< | p>Halah | pakai | kakanda | segala | biasa aja | Siapa | sekarang | cuma | siapa | p>Kenapa | setelah | pensiun | larinya | pertanian | kerja | bisnis | bidang | lain | p>Dulunya | lari | perikanan | sisi | laut | Tapi | pikir | karena | dari | dulu | beli | pegunungan | jadi | terbiasa | alam | gitu | pengen | waktu | syuting | banyak | hutan | tertarik | aktivitas | kota | enak | desa | Karena | itulah | nyoba< | menggeluti | muluk | coba | nanam | jagung | baru | merambah | p>Jokowi | akhir | sering | undang | orang | Istana | diundang | sama | Jokowi | p>Ya | enggak | kaitin | demo | dong | hahahaha | kaitannya | Memang | ramai | mungkin | kebetulan | tanggal | hubungannya | Mana | Kebetulan | mereka | punya | jadwal | Ahok | p>Soal | besok | tanggapan | akang | p>Masalah | tersangka | Proses | secara | hukum | bersalah | Umat | Islam | merasa | dihina | hina | juga | tersinggung | Kita | lihat | prosesnya | saja | sampai | mana | negara | tangkap | misalkan | salah | benar | dilepaskan | Sebagai | umat | kita | mesti | tahan | legowo | sabar | nabi | dikejar | kejar | Hira | dianiaya | p>Di | dunia | politik | nasional | panas | kira | politikus | sifatnya | agak | Sinto | Gendeng | p>Kalau | dikaitakan | politisi | Waras | semua | Alhamdulillah | Indonesia | pada | asyik | Kalau | perbedaan | pendapat | wajar | p>Suka | favoritnya | p>Aku | pernah | perhatiin | Studi | orangnya | netral |  Kesukaanku | sebenarnya | Anas | Urbaningrum | tapi | sebelum | kena | cenderung | Secara | merakyat |  Pak | kalem | pemerintahan | suka | Prabowo | meledak | ledak | ngomong | waaa | waaa… | (ekspresi | beragitasi | laiknya | Sukarno) | idamanku | gayanya | hebatnya | kok< | p>Sekarang | bicara | soal | peran | bedanya | gila | beneran | p>Sebetulnya | beda | tipis | dilakuin | normal | malah | Jadi | bingung | jujur | Kentut | merayap | rayap | kegilaan | Peran | luar | biasa | banget | p>Untuk | total | aneh | berperilaku | sehari | cekikan | Saat | berakting | imajinasi | ambil | kendali | p>Mungkin | nyata | sableng | terus | pahlawan | gini | satu | utama | adalah | sifat | kejujurannya | hatinya | selalu | diucapin | mulutnya | berbohong | setiap | adegan | apapun | Kejujuran | kunci | Selemah | selama | akan | bermanfaat | yakin | Banyak | slengean< | gendeng | manfaat | p>Wiro | dikenal | puluhan | jurus | Pusing | hafalin | gerakannya | Atau | penyebutannya | p>Gak | Tiap | akui | mudah | hafalkan | Semua | dibuat | oleh | Sodikin | menurut | bagus | bantu | p>Gerakan | silatnya | kenapa | lamban | p>Jaman |  memang | mengadopsi | teknik | kungfu | sengaja | diperlambat |  Tren | model | grip | fighting< | begitu | Sebetulnya | speed< | ditambah | Namun | diperlamban | agar | diikutin | ditiru | anak | p>Wajar | soalnya | target | audience< | kecil | dewasa | Adegan | perkelahian | ditolerir | kekerasan | Termasuk | cinta | jika | dirasa | langsung |  Kalau | baca | bukunya | percintaan | pres agar | jangan | p>Ini | alasan | serial | keliatan | Jomblo | Padahal | bukannya | penggemar | macam | Puti | Angsa | Putih | Luhjelita | Luhcinta | Wulan | Srindi | Roro | Manggut | Ning | Intan | Purnama | Anggini | Andini | skripnya | gimana | bener | dikelilingi | perempuan | cantik | terlalu | cuek | didikan | pemuda | bakal | turun | gunung | saat | kekacauan | cari | jodoh | pilih | Bidadari | Angin | Timur | Dewi | Bunga | Mayat | p>Hmmmm | Berat | perannya | Konfliknya | Aduh | mainnya | sebetulnya | Emang | edan | paling | takutin | seperti | Hmmm | bidadari | angin | timur | konflik | cintanya | dominan |  Tapi | dianggap | enteng | romantisnya | Konflik | salut | beliau | sakti | jalan | terbang | percaya | kanuragan | liat | bertarung | memperagakan | memperdalam | ilmu | p>Sebagai | fans | kadang | kesal | bertahan | counter | attack< | Pengen | Jackie | Chan | Steven | Seagal | tipikal | jagoan | p>Betul | penyerang | penunggu | serangan | lawan | kesimpulan | anggap | pertarungan | serius | khasnya | lawannya | Selalu | timbul | lelucon | musuhnya | meledek | serang | omongan | ledekan | makin | mangkel | mengeluarkan | kesaktiannya | terduga | Kadang | kejebak | situasi | sendiri | p>Buat | jajal | batas | maksimum | Jagoan | mestinya | Ledekan | maki | main | lepas | skenario< | kampak | diposisikan | enaknya | senjata | p>Itu | repot | permainan | berkembang | Toya | Pedang | apalagi | Patmayoni | Kampak | susah | Susah | pengunaannya | Sangat | benda | patmayoni | diputer | melatihnya | Paling | nyabet | muter | p>Kampak | perkembangan | begini | (sambil | gaya | pedang) | Maka | pilihan | tepat | buat | bikin | dikasih | pedang | ancur | semuanya | Untung | toya | pasti | abis | menggunakan | pedangnya | direbut | diri | mendingan | kosong | palsunya | gabusnya | vulgar | nonton | ilfeel< | udah | Menurut | memudahkan | waktunya | sempit | adanya | namanya | 1995 | p>Merasa | ganteng | perankan | p>Enggak | pasan | ajalah | p>Saat | bedak | Tebel | p>Iya | betul | sekali | Wajarlah | tahi | lalat | hitam | rapi | Lagi | pula | kulit | mukaku | ampun | bilang | manis | p>Hal | diingat | closing | tampilkan | gagal | situ | dokar | nyungsep | loncat | Masih | ingat | kejadian | lho< | kecewa | nyelamatin | Putri | Laramurni | Yanti | Gara | gara | kecelakaan | geger | otak | Cukup | parah | p>Jadi | sempat | narik | mepet | posisi | miring | makanya | keburu | Lumayan | jatuh | jurang | tingginya | meteran | bawahnya | bebatuan | Lokasi | daerah | Wonogiri | p>Dulu | sekolah | berantem | hobi | kesibukan | mancing | berenang | nongkrong | p>Masih | senang | kemeja | panjang | p>Waktu | artis | Sekarang | Alasan | Ditambah | tutupin | urat | pede | olahraga | keras | tetap | ototnya | merujuk | aktor | takut | Toni | Hidayat | mengidap | Beliau | enggaklah | dihayatin | akting | emang | Makanya | didalemin | tulisan | dada | spidol | p>Haduh | Cuma | meski | tanda | pendeka kok | walaupun | usia | tahun | Ibaratnya | asalnya | gunungnya | tempat | nanti | maunya | tutorial | >Youtube | em>< | p>(tirto | zen)< |

0 comments:

Post a Comment